Halaman Opini

Mengupayakan Kebangkitan Nasional

Rabu 20 Mei 2026, Tim Redaksi

Setiap tanggal 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, momentum lahirnya kesadaran persatuan bangsa melalui organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Kebangkitan nasional pada masa itu lahir dari kesadaran bahwa bangsa ini tidak akan maju jika terus bergantung kepada kekuatan asing dan terpecah oleh kepentingan kelompok. Semangat tersebut masih relevan hingga hari ini ketika Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global, persaingan teknologi, dan tantangan sosial yang semakin kompleks.

Secara angka, Indonesia memang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sekitar 5,11 persen. Namun pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, biaya pendidikan dan kesehatan semakin berat, sementara sebagian masyarakat merasa pendapatan mereka tidak berkembang secepat biaya hidup. Di sinilah kritik utama muncul: pembangunan sering terlihat megah di angka dan proyek, tetapi belum sepenuhnya menyentuh rasa aman ekonomi rakyat kecil.

Kritik terhadap Arah Pembangunan

Kebangkitan nasional akan sulit tercapai apabila ketimpangan terus melebar. Aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara banyak daerah lain tertinggal dalam infrastruktur, pendidikan, dan akses kerja. Kritik lain yang juga menguat adalah pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan fisik, tetapi kurang memperhatikan kualitas sumber daya manusia. Gedung dapat dibangun cepat, tetapi membangun pendidikan, karakter, dan kualitas generasi membutuhkan keseriusan jangka panjang.

Di sektor industri, Indonesia juga menghadapi persoalan serius. Banyak industri nasional masih bergantung pada impor bahan baku dan teknologi luar negeri. Ketika rupiah melemah atau terjadi gangguan rantai pasok global, industri dalam negeri langsung terpukul. Sektor tekstil dan manufaktur misalnya menghadapi tekanan besar akibat banjir produk impor murah. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai daerah menunjukkan bahwa perlindungan terhadap industri nasional masih lemah. Kritik masyarakat cukup jelas: negara belum sepenuhnya hadir melindungi pelaku usaha nasional dan tenaga kerja dalam negeri.

Masalah berikutnya adalah kualitas ruang publik dan demokrasi digital. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana pendidikan justru sering dipenuhi hoaks, provokasi, dan polarisasi politik. Perbedaan pilihan politik kerap berubah menjadi permusuhan sosial. Elite politik pun sering memberi contoh buruk dengan mempertajam konflik demi kepentingan elektoral jangka pendek. Akibatnya, energi bangsa habis untuk pertengkaran, bukan untuk membangun kemajuan bersama.

Solusi Konstruktif untuk Kebangkitan Nasional

Meski kritik perlu disampaikan, kebangkitan nasional tidak boleh berhenti pada pesimisme. Indonesia tetap memiliki modal besar berupa sumber daya alam, bonus demografi, dan posisi strategis di kawasan Asia. Yang dibutuhkan adalah keberanian memperbaiki arah pembangunan agar lebih adil dan produktif. Pemerintah perlu memperkuat sektor pendidikan dan pelatihan kerja agar generasi muda siap menghadapi persaingan global. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan ijazah, tetapi harus mampu menciptakan keterampilan, inovasi, dan karakter kebangsaan. Selain itu, hilirisasi industri harus benar-benar menghasilkan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri, bukan hanya memperbesar investasi tanpa dampak nyata bagi masyarakat.

Perlindungan terhadap UMKM, petani, dan industri padat karya juga harus diperkuat. Negara perlu memastikan pasar domestik tidak sepenuhnya dikuasai produk impor murah yang mematikan usaha nasional. Kebijakan ekonomi harus berpihak pada penguatan produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terus menjadi pasar bagi negara lain.

Persatuan sebagai Fondasi Kebangkitan

Pada akhirnya, kebangkitan nasional bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal persatuan dan rasa memiliki terhadap bangsa. Indonesia adalah negara besar dengan keberagaman suku, agama, budaya, dan pandangan politik. Karena itu, perbedaan tidak boleh dijadikan alat perpecahan. Kritik terhadap negara penting dalam demokrasi, tetapi harus diarahkan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa tantangan Indonesia hari ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Namun sejarah membuktikan bangsa ini mampu bertahan karena memiliki semangat gotong royong dan persatuan. Kebangkitan nasional yang sesungguhnya adalah ketika pembangunan tidak hanya terlihat di pusat kota, tetapi juga dirasakan rakyat kecil; ketika demokrasi tidak hanya ramai dalam debat, tetapi juga menghadirkan keadilan; dan ketika seluruh elemen bangsa kembali menempatkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan kelompok dan golongan.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa tantangan Indonesia hari ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Namun sejarah membuktikan bangsa ini mampu bertahan karena memiliki semangat gotong royong dan persatuan. Kebangkitan nasional yang sesungguhnya adalah ketika pembangunan tidak hanya terlihat di pusat kota, tetapi juga dirasakan rakyat kecil; ketika demokrasi tidak hanya ramai dalam debat, tetapi juga menghadirkan keadilan; dan ketika seluruh elemen bangsa kembali menempatkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan kelompok dan golongan.

Sebab untuk bangkit memang tetap perlu “omon-omon” berupa gagasan, kritik, dan keberanian menyuarakan perubahan. Tetapi bangsa ini tidak akan maju hanya dengan narasi dan slogan, kebangkitan nasional membutuhkan niat baik, kerja nyata, keteladanan, keberpihakan kepada rakyat, serta keberanian bersama untuk membangun Indonesia yang lebih adil, mandiri, dan bermartabat


Kasih Bintang Artikel ini

3/5 – (1 vote)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *