Look of the Games: Simfoni Visual Olimpiade

Buku Look of the Games: Simfoni Visual Olimpiade karya Didot Mpu Diantoro membuka perspektif baru dengan menempatkan desain visual sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah, identitas, dan diplomasi Olimpiade.
Selama lebih dari satu abad, Olimpiade dikenal sebagai panggung kompetisi olahraga terbesar di dunia. Namun, sedikit sekali publik yang menyadari bahwa di balik kemegahan stadion, parade atlet, dan perebutan medali, terdapat sebuah sistem komunikasi visual yang dirancang secara sangat cermat.
Berbeda dengan buku-buku Olimpiade yang umumnya membahas prestasi atlet, sejarah pertandingan, atau aspek manajemen penyelenggaraan, buku ini menjadikan Look of the Games sebagai fokus utama kajian. Penulis menunjukkan bahwa logo, tipografi, warna, maskot, piktogram, hingga dekorasi ruang kota bukan sekadar unsur estetika, melainkan sebuah sistem identitas visual yang membangun citra tuan rumah sekaligus membentuk pengalaman kolektif miliaran penonton di seluruh dunia.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada cara penulis menelusuri evolusi Look of the Games sejak era poster Olimpiade Athena 1896 hingga transformasi digital pada Olimpiade Paris 2024. Pembaca diajak memahami bagaimana setiap penyelenggaraan Olimpiade melahirkan pendekatan visual yang berbeda sesuai konteks budaya, politik, teknologi, dan strategi pencitraan negara penyelenggara. Tokyo 1964 menjadi tonggak lahirnya sistem piktogram modern, Mexico 1968 memperkenalkan keberanian eksplorasi grafis, Munich 1972 menyusun standar desain modern, Los Angeles 1984 memformalkan istilah Look of the Games, sementara Barcelona 1992 hingga Tokyo 2020 menunjukkan bagaimana identitas visual berkembang menjadi instrumen city branding dan komunikasi global.
Keunggulan lain buku ini adalah kemampuannya menggabungkan praktik profesional dengan landasan teoritis. Penulis tidak hanya memaparkan sejarah desain, tetapi juga mengaitkannya dengan teori komunikasi visual, branding, semiotika, serta pemikiran tokoh-tokoh seperti Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, hingga Otl Aicher. Pendekatan multidisipliner tersebut membuat buku ini tidak hanya menarik bagi desainer grafis, tetapi juga relevan bagi akademisi, mahasiswa, praktisi komunikasi, pengelola event olahraga, dan pemerhati diplomasi budaya.
Pengalaman panjang penulis dalam berbagai penyelenggaraan multi-event olahraga di Indonesia juga memberikan nilai tambah yang kuat. Pembahasan tidak berhenti pada teori, melainkan diperkaya dengan perspektif praktis mengenai bagaimana sebuah sistem identitas visual dirancang, diimplementasikan, dan dihadirkan sebagai pengalaman ruang yang utuh. Hal ini menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi langka dalam literatur berbahasa Indonesia mengenai branding dan desain visual olahraga internasional.
Secara keseluruhan, Look of the Games: Simfoni Visual Olimpiade merupakan kontribusi penting bagi khazanah literatur desain komunikasi visual, olahraga, dan branding di Indonesia. Buku ini mengajak pembaca melihat Olimpiade dari sudut pandang yang selama ini jarang mendapat perhatian: bahwa desain bukan sekadar pelengkap perayaan olahraga, melainkan bahasa universal yang membangun identitas, memperkuat memori kolektif, serta menjadi warisan budaya yang terus dikenang lintas generasi. Bagi siapa pun yang ingin memahami hubungan antara olahraga, budaya, komunikasi, dan desain, buku ini menawarkan perspektif yang kaya, argumentatif, dan inspiratif.
Kasih Bintang Artikel ini

Leave a Reply